Connect with us

Jkt Politik

Ini Respons Kubu Prabowo Terkait Tingginya Elektabilitas Jokowi

Published

on

Ini Respons Kubu Prabowo Terkait Tingginya Elektabilitas Jokowi

jktinfo.comJAKARTA Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) akan digelar pada 17 April 2019. Elektabilitas calon presiden (capres) petahana, Joko Widodo (Jokowi) dalam sejumlah survei masih unggul dibanding pesaingnya, Prabowo Subianto.

“Dalam beberapa survei baik Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), dan Pilpres, petahana menang selalu unggul,” kata politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi, di Kantor Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Jakarta, Minggu (7/10).

Diketahui, PAN merupakan salah satu partai politik (parpol) pengusung Prabowo dan Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Viva menyatakan, proses kampanye memakan waktu yang panjang. Artinya, peluang Prabowo memenangkan Pilpres tetap terbuka.

Viva berharap, kampanye menjadi ajang pertarungan ide, dan gagasan. “Lebih menyebarkan rasionalitas, lebih mencerdaskan. Tidak saling fitnah memfintah. Tidak saling beri hoax. Diarahkan kepada hal produktif,” ujarnya.

Sesuai temuan survei SMRC, tingkat elektabilitas dengan pertanyaan spontan, Jokowi meraih 47,4%, sedangkan Prabowo 21%. “Hasil survei SMRC ini jadi sebuah modal bagi kami. Survei itu ibarat sebuah cermin hari ini yang dibatasi oleh waktu dan tempat tertentu. Tapi perkembangan dinamika masyarakat terus sampai 6,5 bulan kampanye,” ucapnya.

Ia menuturkan, terdapat tiga kategori pemilih di Indonesia yaitu yang ideologis, rasional, dan transaksional. Dengan masa kampanye yang lama, lanjutnya, perilaku pemilih menjadi dinamis. “Sangat memungkinkan perilaku pemilih ini akan ada perubahan-perubahan,” tuturnya.

Ia menambahkan, faktor segmentasi masyarakat tertentu juga perlu diteliti. Misalnya, kalangan buruh, nelayan, petani, dan lain sebagainya. “Perlu diingat, masyarakat Indonesia sebagian besar petani dan nelayan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Andy Budiman mengatakan, kian hari kepemimpinan Jokowi semakin matang. “Kalau dulu Pak Jokowi agak kikuk, canggung, tapi belakangan gesturnya semakin matang,” kata Andy.

Salah satu contohnya, menurut Andy, ketika ramai informasi adanya pemukulan terhadap aktivis Ranta Sarumpaet. Faktanya, Ratna mengaku itu hanya kebohongan. “Pada saat kasus Ratna, Pak Jokowi tidak sekali pun memberikan respons. Beliau fokus membantu korban bencana di Palu. Ini sikap kenegarawanan yang lantang dari Pak Jokowi,” ujarnya.

Ia juga berharap agar hoax tidak merajelela selama kampanye. Sebab, hoax berpotensi melemahkan posisi Jokowi. “Dalam sejarah rivalitas (Jokowi dan Prabowo) pernah ada jarak tipis yaitu saat hoax merajalela ketika 2014. Ada faktor yang harus diperhatikan yakni bagaimana cara kita menangkal hoax,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan, hoax memang lebih cepat menyebar melalui media sosial. “Seharusnya ke depan bisa dikurangi. Tadi Mas Viva dan Andy sepakat tidak pakai hoax, sekarang tinggal bagaimana itu diimplementasikan ke tingkat bawah,” katanya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

berita terhangat

%d bloggers like this: